Saturday, 27 July 2013

Indahnya BUKBER dengan Keluarga

Indahnya kebersamaan..

Sore ini, bertempat di rumah Bapak Harun, jamaah Masjid At-Tauhid Kepanjen mengadakan buka bersama dengan masyarakat. Tidak kurang seratusan jamaah turut menyemarakkan acara ifthar jamai ini.

Saat memberi sambutan, Bapak Harun berpesan agar para jamaah dapat mempertahankan kebersamaan ini. Beliau juga berharap agar masjid bisa selalu ramai dan makmur dengan tilawah dan shalat jamaah.

IMAM NAWAWI; Penyusun Kitab Riyadhus Shalihin dan Hadits Arbain


|| Oleh: Ali Ghufron Sudirman ||

Nama lengkap Imam Nawawi adalah Al-Hafiz Syeikhul islam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Beliau dinisbatkan dengan An-Nawawi karena berasal dari kampung Nawa, salah satu perkampungan Hauran di Syiria. Imam An-Nawawi begitu familier di telinga umat Islam berkat karyanya yang hampir dimiliki oleh setiap muslim di dunia, yaitu Kitab Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, dan Hadits Arba’in.

Imam Nawawi rahimahullah lahir di kampung Nawa pada bulan Muharram 631 H dari pasangan orang tua yang saleh dan salehah. Saat berusia sepuluh tahun, An-Nawawi kecil mulai berkonsentrasi menghafal Al-Quran dan belajar  fiqih kepada para ulama di daerahnya.



Tak Suka Bermain
An-Nawawi kecil bukan seperti anak sebayanya. Ia sama sekali tidak suka bermain. Bahkan sempat suatu kali ia lari dan menangis sambil masih membawa mushaf Al-Quran karena dipaksa oleh teman-teman sebayanya untuk bermain bersama saat sedang asyik menghafal.

Ketika melihat hal itu, Syekh Yasin bin Yusur Al-Muraksy mendatangi orang tua An-Nawawi dan menasihatinya agar sang anak diarahkan untuk serius belajar. Sang ayah pun setuju. Hingga pada tahun 639 H, ia membawa An-Nawawi menuju Damaskus untuk dipondokkan di Madrasah Darul Hadits. Waktu itu Imam An-Nawawi bertempat di Blok Ar-rawahiyyah yang menempel dengan masjid Al-Umawi. Pada tahun 651, An-Nawawi berangkat Haji bersama sang ayah, kemudian kembali lagi ke Damaskus dan berguru kepada para ulamanya.

Bahkan Menikah Pun Lupa

Imam Nawawi merupakan sosok ahli zuhud dan wira’i. Beliau sama sekali tidak mau menerima hadiah atau pemberian orang lain. Beliau hanya menerima pemberian orang tua dan kerabat-kerabatnya saja. Sang ibu biasanya mengirimi baju untuk ia pakai. Sedangkan sang ayah akan mengirimkan kebutuhan makan minumnya. Dalam sehari semalam Imam An-Nawawi hanya makan sekali, yaitu setelah shalat Isya, dan sekali minum yaitu ketika waktu sahur. Imam An-Nawawi bahkan belum pernah merasakan segarnya air dingin.
Keberanian beliau tak tertandingi dalam hal amar makruf nahi mungkar serta memberi nasihat kepada pemimpin. Saking sibuknya mencari dan menyebarkan ilmu, suatu kali Imam An-Nawawi ditanya, “Kenapa Anda belum juga menikah?” Beliau menjawab singkat, “L U P A.”
Di antara karya Imam An-Nawawi yang paling populer adalah Riyadhus Shalihin, Al-Adzkar, Hadits Arba’in, dan Syarah Sahih Muslim dalam bidang hadits. Beliau juga menyusun kitab Al-Manhaj dalam bidang fiqih dan kitab-kitab lainnya. Imam An-Nawawi wafat pada 24 Rajab 276 di kampung halamannya, Nawa. Ketika jenazahnya sampai di Damaskus, semuanya tenggelam dalam duka dan suasana berkabung. 

Sang Imam telah lama pergi. Tapi karya-karyanya tetap dapat kita nikmati. Sungguh benar kata seorang penyair Arab. Al-khattu yabqa zamanan ba’da katibihi, wakatibul khatti tahtal ardhi madfunun. Karya itu tetap abadi, meski penulisnya sudah lama pergi dikandung bumi…


Diterjemahkan dari www.islamstory.com dengan beberapa perubahan

Thursday, 25 July 2013

Berilah Teladan, Jangan Memberi Teguran

|| Oleh: Alfiyatul Azizah Harun ||

“Berdirilah kalian, lalu cukur rambut dan sembelihlah hewan sembelihan.” Begitu perintah Rasulullah Saw. kepada para sahabat, setelah perjanjian Hudaibiah ditandatangani pada tahun ke enam Hijriah.

Kita tentu tidak meragukan loyalitas dan kecintaan para sahabat kepada Rasulullah. Tapi sekali ini, ternyata tidak satu pun dari seribu empat ratus sahabat itu yang menyimak perintah beliau. Mereka bersedih. Kecewa karena urung melaksanakan ibadah umrah. Kerinduan mereka untuk melihat Kakbah dan tawaf di sekelilingnya tidak terlaksana.

Rasulullah mengulangi perintahnya sekali lagi, namun para sahabat tetap diam di tempat. Bahkan sampai tiga kali Rasulullah mengulangi perintah tersebut, para sahabat tetap diam, larut dalam kesedihan mereka.

Mendapat tanggapan seperti itu, Rasulullah segera masuk menemui istri beliau, Ummu Salamah, guna menceritakan perihal sikap para sahabat. Lalu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Ahmad, Ummu Salamah memberi saran kepada Rasulullah seraya berkata, 

“Wahai Nabi Allah, jika engkau menginginkan para sahabat menuruti perintahmu, sekarang juga keluarlah dan jangan bicara sepatah kata pun kepada mereka lagi. Segera sembelih binatang sembelihan dan panggil tukang cukur untuk mencukurmu."

Maka Rasulullah keluar dan tidak berbicara kepada seorang pun di antara mereka. Beliau segera menyembelih binatang sembelihannya, lalu memanggil tukang cukur. Hasilnya sangat manjur. Ketika melihat hal itu, tanpa dikomando lagi para sahabat bergegas berdiri, menyembelih binatang sembelihan, kemudian sebagian dari mereka mencukur sebagian yang lain, sehingga seakan-akan, sebagian dari mereka menciderai kepala sebagian yang lain karena terlalu bersedih (HR. Bukhari dan Ahmad).


Hadits sahih ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa seorang pemimpin itu hendaknya memberi contoh kepada orang-orang yang dia pimpin. Ketika membuat suatu keputusan dan aturan, seorang pemimpinlah yang semestinya melaksanakan keputusan dan aturan tersebut pertama kali. Terlebih di saat kondisi krisis, ketika masyarakat sedang berduka, atau sedang dilanda kecewa. Pada saat-saat seperti itu, kalau pemimpin hanya bicara tanpa kerja nyata, rakyat tidak akan peduli dan simpati. Wallahu a‘lam.