Wednesday, 8 July 2015

Mana Bukti Cinta Kita kepada Al-Quran? (Part 2)

Saudaraku, saat kita mengaku cinta pada sesuatu, kita tentu akan berusaha membuktikan cinta itu dengan amal dan perbuatan. 

Bila cinta hanya ucapan mulut saja tanpa bukti nyata, maka cinta seperti itu hanya omong kosong belaka. Kita membuktikan cinta kita pada pasangan dengan berusaha memuaskan dan menyenangkannya. Kita membuktikan cinta kita pada anak-anak dengan berusaha memberi perhatian dan pendidikan yang baik.

Sebagian kita yang ‘tergila-gila’ pada sepak bola, maka ia korbankan waktu tidurnya demi menonton aksi sang idola. Sebagian kita yang ‘ketagihan’ dengan sinetron atau telenovela, maka ia rela memutus semua kesibukannya demi melihatnya. Begitulah. Setiap cinta, setiap kegemaran, setiap kesenangan, semua membutuhkan bukti dan pengorbanan.

Bukti Cinta Al-Quran

Maka demikian pula dengan kecintaan kita kepada Al-Quran. Ia pun butuh bukti dan pengorbanan.

Bila kita mengaku cinta pada Al-Quran tapi memegang dan menyentuhnya saja begitu jarang, apakah seperti ini dinamakan cinta? Bila kita mengaku cinta Al-Quran tapi membacanya saja ogah-ogahan, apakah seperti ini dinamakan cinta? Bila kita mengaku cinta Al-Quran tapi menghayati kandungannya saja malas-malasan, apakah seperti ini dinamakan cinta?

Mari saudaraku, kita perbarui kecintaan kita pada Al-Quran. Kita buktikan rasa cinta itu dengan amal dan perbuatan. Sebagaimana disampaikan oleh Ats-Tsa’alabi di dalam tafsirnya (jilid 3/99), ayat 30 surah Al-Furqan merupakan peringatan kepada kita supaya bermulazamah dengan Al-Quran, terus membersamai Al-Quran, tidak membiarkannya berdebu, serta tidak mengacuhkannya karena kesibukan lain. Inilah cinta itu.

Sebagaimana kita mau berkorban waktu demi sepak bola atau telenovela, kita pun harus meluangkan waktu untuk membaca Al-Quran bila mengaku cinta. Sebagaimana sehari saja rasanya kurang bila belum membaca koran, maka kita pun harus merasa begitu saat belum membaca Al-Quran. Apalagi, sebagaimana diriwayatkan oleh Abul Fadhl Ar-Razi di dalam kitab Fadha’ilul Qur’an Wa Tilawatuhi, “Keutamaan Al-Quran dibanding bacaan-bacaan yang lain seperti keutamaan Allah dibanding para makhluk-Nya.

Sehari Semalam 50 Ayat

Saudaraku, hendaklah kita membuktikan cinta kita kepada Al-Quran dengan membacanya setiap hari tidak kurang dari 50 ayat. Bila kuota minimal itu dapat kita penuhi maka sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah, kita tidak dicap sebagai orang yang acuh dan menelantarkan Al-Quran. Ibnu Sunni dalam kitab Amalul Yaum Wal Lailah (jilid 3/289) meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ فِيْ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسِيْنَ آيَةٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ ، وَمَنْ قَرَأَ مِائَةَ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِيْنَ، وَمَنْ قَرَأَ مِائَتَيْ آيَةٍ لَمْ يُحَاجُّهُ الْقُرْآنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ قَرَأَ خَمْسَمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ لَهُ قِنْطَارٌ مِنَ اْلأَجْرِ .

Barang siapa membaca 50 ayat dalam sehari semalam maka ia tidak ditulis sebagai orang-orang yang lalai. Barang siapa membaca 100 ayat maka ia dianggap sebagai hamba yang taat dan ahli ibadah. Barang siapa membaca 200 ayat maka hujahnya tidak akan dikalahkan oleh Al-Quran pada hari kiamat. Dan barang siapa membaca 500 ayat maka ditulis baginya pahala satu qinthar.

Mari, saudaraku. Kita penuhi kuota minimal ini. Sebagai salah satu bukti cinta minimalis kita terhadap Al-Quran. Tak apalah kita mulai dari yang minimalis dulu. Asalkan kontinu, itu sungguh luar biasa. Sebab amal yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang konsisten, kontinu, dan berkelanjutan, meskipun ia minimalis… 

Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment

Katakan yang baik-baik, atau lebih baik diam. Begitu pesan Rasul kita...