Showing posts with label inspirasi. Show all posts
Showing posts with label inspirasi. Show all posts

Monday, 13 July 2015

Ioni Sullivan: Mereka mengira saya memakai jilbab karena kanker

Ioni Sullivan (38 tahun) sangat dikenal oleh warga Lewes, East Sussex, Inggris karena satu-satunya perempuan berjilbab di pedesaan tersebut. Padahal perempuan berputra dua ini terlahir dari keluarga atheis yang berpendidikan tinggi. Ayahnya, seorang profesor dan ibunya menjadi guru.

Setelah menyandang master filsafat dari Cambridge pada tahun 2000, Sullivan lantas bekerja di beberapa negara, seperti Mesir, Yordania, Palestina, dan Israel.

“Sekembalinya dari sana, aku merasa terkesan dengan ketegaran orang-orang di sana, terutama umat Islam. Meski didera berbagai kesulitan, mereka tetap berusaha bertahan dengan keyakinannya. Ini kontras sekali dengan duniaku,” cetus Sullivan pada The Guardian.

Thursday, 9 July 2015

Ramadan Masuk Babak Final

Ramadan telah memasuki babak akhir dan penentuan. Mari kita kembali mengatur strategi, memompa energi, dan menguatkan visi misi demi meraih trofi yang kita cari. Akan sangat sayang bila kita sampai gugur di babak ini. Akan sangat rugi bila kita berhenti hanya sampai di sini.

Mari saudaraku, di sepuluh hari terakhir bulan suci ini, di saat banyak orang memilih menyerbu tempat-tempat perbelanjaan, ketika kebanyakan orang lebih senang meramaikan stasiun, terminal dan pelabuhan, kita harus tetap bertahan di dalam masjid. Konsisten menjaga semangat. Demi trofi muttaqin sejati.

Friday, 3 July 2015

HIkmah Jumat: Hanya Satu yang Setia Menemani

Seorang lelaki memiliki tiga orang istri. Istri pertama tua dan biasa saja, yang biasanya tidak diperhatikan. Istri kedua lumayan cantik dan agak diperhatikan. Sedangkan tstri ketiga sangat menarik sehingga sangat diperhatikan dan disanjung-sanjung serta diutamakan!

Waktu terus berlalu dan tibalah saat sang suami tersebut hendak meninggal, lalu dipanggilah keempat orang istrinya.

Istri ketiga yang paling cantik ditanya, “Maukah ikut menemaniku ke alam kubur?”

Si istri menjawab, “Maaf, cukup sampai di sini saja saya ikut denganmu.”

Kemudian dipanggil istri kedua dan ditanya hal yang sama, maka dia pun menjawab, “Baik, saya akan menemanimu tapi hanya sampai ke liang kubur, setelah itu selamat tinggal.”

Si Suami sungguh kecewa mendengar semua itu. Tetapi inilah kehidupan dan menjelang kematian.

Lalu dipanggillah istri pertama yang selama ini tidak dia perhatikan lalu ditanya hal yang sama. Apa jawaban istri pertama? Dia bilang, “Saya akan menemani ke mana pun kamu pergi dan akan selalu mendampingimu.…”

Mau tahu siapa istri pertama sampai ketiga itu?

Istri ketiga adalah “harta dan kekayaan”. Mereka akan meninggalkan jasad kita seketika saat kita meninggal.

Istri kedua adalah keluarga dan teman-teman kita. Mereka akan mengantar kita sampai dikuburkan, dan akan meninggalkan kita setelah mayat kita dimasukkan dalam liang kubur dan ditutup dengan tanah.

Sedangkan istri pertama adalah “amal perbuatan kita” kita selama hidup di dunia, yang akan setia menemani kita ke mana pun kita pergi. Maka, berbuatlah banyak kebaikan selama kita masih hidup di dunia ini agar nantinya dapat memiliki bekal yang dapat dibawa mati.

Rasul saw. bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ ؛ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ (رواه الترمذي عن أنس بن مالك وقال حديث حسن صحيح)

Artinya:

Orang yang meninggal akan diantar oleh tiga perkara, yang dua kembali dan yang satu tetap menemani. Dia akan diantar oleh keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, sedang amalnya akan tetap menemani (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik. Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan sahih)

Friday, 26 June 2015

HIkmah Jumat: Jangan Hanya Melihat Kulitnya

Anas bin Amir berharap dapat menikah dengan perempuan cantik yang sedap dipandang mata. Dia akhirnya menikah. Tapi ketika membuka penutup wajah sang istri, Anas kecewa karena ternyata sang istri berwajah hitam dan jelek. Rasa kecewa itu membuatnya tidak mau menggauli istrinya pada saat malam pertama dan malam-malam berikutnya. Dia pergi meninggalkan rumah.

Ketika sang istri merasa bahwa kondisinya akan terus seperti itu dia segera menemui suaminya dan berkata, ‘Wahai, Anas. Bisa jadi kebaikan itu tersembunyi dari sesuatu yang terlihat buruk.”

Akhirnya Anas tersadar. Dia pun mau menggauli istrinya tapi masih menyimpan rasa ketidakpuasannya. Lama-kelamaan Anas tak mampu memendam kekecewaan itu. Dia kembali pergi meninggalkan rumah. Tapi sekali ini dia pergi selama dua puluh tahun dan tidak sadar bahwa sang istri telah mengandung anaknya.

Setelah pergi selama dua puluh tahun itu Anas kembali ke Madinah dan segera memasuki masjid untuk shalat. Selesai menjalankan shalat dia mendengarkan ceramah imam yang sangat memukau hatinya. Dia kemudian bertanya kepada para jamaah yang hadir.

“Siapa gerangan imam itu?” tanyanya.

“Apa Anda tidak tahu? Dia Imam Malik,” jawab orang yang ditanya dengan sedikit heran.

“Anak siapa?” tanya Anas penasaran.

Kali ini orang yang ditanya cuma menggelengkan kepala.

“Kami kurang tahu siapa ayahnya. Tapi katanya, ayah beliau telah meninggalkan Madinah sejak dua puluh tahun yang lalu. Namanya Anas.”

Mendengar itu Anas bin Amir mendekati Imam Malik dan berkata,

“Saya ingin berkunjung ke rumahmu. Tapi saya hanya akan berhenti di depan pintu. Tolong katakan kepada ibumu bahwa di depan rumah ada orang yang berkata bahwa bisa jadi kebaikan itu tersembunyi dari sesuatu yang terlihat buruk.”

Imam Malik dengan senang hati mempersilakan Anas untuk berkunjung ke rumahnya. Setelah masuk rumah beliau pun memberi tahu perihal tamu aneh tersebut kepada sang ibu. Serta-merta ibu Imam Malik berkata,

“Cepat. Buka pintu. Dia adalah ayahmu yang pulang setelah lama pergi,” ucapnya penuh gembira.

Selama ini dia memang tidak pernah menceritakan hal yang buruk perihal suaminya. Pertemuan itu pun sangat mengharukan. Itulah sosok perempuan salihah. Itulah ibunda Imam Malik.


Saudaraku, jangan pernah menilai keindahan dari tampilan luarnya saja karena penampilan luar bisa saja menipu kita. Jangan pula menghukumi sesuatu dari kulitnya saja, sebab kulit bisa dipoles untuk menutupi keburukannya.

Thursday, 25 June 2015

Kematiannya Disambut Pesta di Seluruh Eropa….

Saat kematiannya, seluruh Eropa berpesta dan merasa lega. Mereka merayakan kematian itu dengan duduk di atas kuburannya sambil meminum khamer penuh bahagia.

Salah satu dari mereka berkata, “Demi Tuhan, andai pemilik kuburan ini hidup lagi maka dia takkan membiarkan satu pun dari kita dalam kondisi bernyawa!”

Dia bukan Shalahuddin Al-Ayyubi yang terkenal itu. Tapi dia pribadi mulia yang sangat dihormati. Dia bergelar Al-Hajib Al-Manshur (Al-Manzor). Nama lengkapnya Muhammad bin Abi Amir Al-Amiri. Lahir pada 326 H di bagian selatan Andalusia.

Apakah kita pernah mendengar namanya?

Biarkan sejarah yang bercerita….

Saat panglima Al-Hajib Al-Mansur menjemput kesyahidannya, kabar kematian itu menggema di seantero Eropa. Terlebih di Perancis. Bahkan Raja Alfonso bergegas datang ke kuburannya, mendirikan tenda besar di atasnya, dan meletakkan ranjang bertatakan emas tepat di atas kuburannya, lalu tidur di atasnya bersama sang istri.

“Lihatlah, sekarang aku telah menguasai seluruh wilayah Islam dan Arab. Dan aku duduk di atas kuburan panglima terbesar mereka!” kata sang raja.

Kemudian terdengar seseorang berkata, “Demi Tuhan, andai pemilik kuburan ini hidup lagi maka dia takkan membiarkan satu pun dari kita dalam kondisi bernyawa!”

Alfonso yang mendengar ucapan itu marah, lalu menghunus pedangnya. Tapi sang istri menahannya seraya berkata,

“Dia benar. Apa yang membanggakan dengan tidur di atas kuburan musuh? Bukankah itu hanya semakin menambah keagungannya saja? Bahkan sampai mati kita tidak mampu mengalahkannya! Sejarah pasti akan menulis kemenangannya ini! Sungguh buruk apa yang kita lakukan ini. Dan alangkah nyamannya dia saat ini yang tertidur tenang di bawah singgasana para raja!”

Al-Hajib Al-Mansur. Bergabung dalam militer saat muda, dan menjadi kepala polisi di Cordova karena keberanian dan jasanya. Kemudian diangkat menjadi penasihat Gubernur Andalusia, lalu menjadi Gubernur Andalusia dan Panglima tertingggi tentara Islam di sana.

Dia telah memimpin lebih dari 50 peperangan, dan semuanya dimenangkannnya! Sekali pun belum pernah ia terkalahkan.

Perang terbesar yang pernah dipimpinnya adalah perang Leon di selatan Perancis, di mana tentara Eropa yang bersatu bersama tentara Leon mengalami kekalahan hebat. Banyak raja Eropa yang terbunuh, dan banyak juga yang ditawan, kemudian dia memerintahkan agar dikumandangkan azan di tempat itu. Dan itulah azan pertama yang dikumandangkan di bumi Perancis.

memang seperti itulah kebiasaannya. Setiap kali menang dalam peperangan, dia pasti mengumandangkan azan, lalu mengumpulkan debu-debu yang lengket di pakaian perangnya untuk kemudian dimasukkan ke dalam botol. Wasiatnya, apabila dia meninggal, agar botol itu ikut dimasukkan ke dalam kuburannya untuk menjadi saksi di sisi Allah….

Eropa sangat membenci Al-Hajib Al-Mansur. Sebab, selama 25 tahun mereka banyak kehilangan tentara dan panglima di tangannya. Selama 25 tahun mereka tidak pernah tenang dan tidak bisa beristirahat.

Al-Hajib Al-Mansur selalu berdoa supaya mati syahid di medan perang, bukan di antara bilik istana. Dan doanya terkabul. Dia syahid dalam perjalanan perang di perbatasan Perancis di dekat pegunungan Pyrenees.

Dia syahid pada umur 60 tahun, dan 25 tahun di antaranya dia habiskan untuk berjihad menaklukkan musuh-musuh Islam.

Al-Hajib Al-Mansur sudah pergi menghadap Rabb-nya, namun namanya akan tertulis abadi dengan tinta emas oleh sejarah umat manusia.

Dia syahid, sedang di kantong bajunya terdapat botol berisi sisa-sisa debu pertempuran yang dia menangkan demi kejayaan Islam.

Dia syahid, sedang tubuhnya penuh luka perang yang akan bersaksi di hadapan rabbnya, bahwa hanya satu yang dicitakan sang panglima, yaitu menghadap-Nya dengan membawa sesuatu yang dapat memasukkannya ke dalam surga.…

(sumber: diterjemahkan dari www.facebook.com/NumidiaNews)

Wednesday, 24 June 2015

Makna Keberkahan

Suatu ketika ada seorang pemuda yang datang kepada Imam Syafi’i rahimahullah lalu mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberitahukan bahwa ia bekerja sebagai pekerja upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

 “Minta gajimu untuk dikurangi jadi 4 Dirham,” saran Imam Syafi’i.

Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama, orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i untuk mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan.

“Kalau begitu minta gajimu untuk dikurangi jadi 3 Dirham,” saran Imam Syafi’i kembali.
Orang itu pun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.
Setelah berlalu sekian hari, orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasihatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya. Lalu Imam Syafi’i membacakan sebuah sya’ir:

جَمَعَ الْحَرَامَ عَلَى الْحَلَاِل لِيُكْثِرَهُ # دَخَلَ الْحَرَامُ عَلَى الْحَلَالِ فَبَعْثَرَهُ

Dia kumpulkan yang haram dengan yang halal supaya menjadi banyak.
Yang haram pun masuk ke dalam yang halal lalu ia merusaknya.


Barangkali kisah ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam bekerja. Jangan terlalu berharap gaji besar bila pekerjaan kita hanya sederhana. Dan jangan berbangga dulu mendapatkan gaji besar, padahal etos kerjanya sangat lemah atau tidak seimbang dengan gaji yang diterima. (sumber: forum.el-wlid.com)

Tuesday, 23 June 2015

Kerja, Kerja, Kerja....

Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannaf-nya (5/258) meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: 

مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلاَلاً اِسْتِعْفَافًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ وَسَعْيًا عَلَى أَهْلِهِ وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ لَقِيَ اللهُ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ، وَمَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا مُكَاثِرًا بِهَا حَلاَلاً مُرَائِيًا لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهَ غَصْبَانُ ".

Artinya:
Barang siapa mencari (kenikmatan) dunia secara halal untuk menjaga diri dari meminta-minta; untuk memenuhi kebutuhan keluarganya; dan untuk bederma kepada tetangganya maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang wajahnya bersinar terang laksana bulan purnama. Sedangkan barang siapa mencari (kenikmatan) dunia secara halal untuk ditumpuk-tumpuk dan pamer kepada sesama maka di hari kiamat ia akan bertemu Allah sedang Allah murka kepadanya.

Makna yang dapat kita ambil dari hadits di atas: 
  1. Sewajarnya orang hidup di dunia, kita pun setiap hari mencari hal-hal yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya. Maka kita bekerja.
  2. Dalam bekerja, kita harus memiliki niat yang baik. Misalnya bekerja demi tidak bergantung kepada orang lain, demi menutupi kebutuhan diri dan keluarga, serta demi membantu tetangga. 
  3. Pada harta yang kita peroleh terdapat hak-hak orang lain yang harus kita tunaikan, sebagaimana diatur dalam agama.
  4. Karena harta benda pada hakikatnya adalah milik Allah yang diamanahkan kepada kita maka kita harus menjaga dan menjalankan amanah itu sesuai dengan pesan dari pemberinya.
Saudaraku, bila ingin punya wajah seterang purnama di hari kiamat, mari kita bekerja dengan niatan yang baik. Dan karena bekerja adalah ibadah, maka tidak sepantasnya kita mengeluh saat menjalankannya. Apa pun profesi kita. Seberat apa pun pekerjaan kita.

Monday, 22 June 2015

Tak Ikut Dibawa Mati


Anas bin Malik RA berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang mati akan diikuti oleh tiga hal. Yang dua kembali, dan yang satu tetap menemani. Ia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan amal perbuatannya. Keluarga dan hartanya kembali, sedang amalnya tetap menemani (HR. Bukhari Muslim).

Hadits sahih di atas dengan lugas mengingatkan kita kembali. Bahwa prioritas utama seorang Muslim adalah menumpuk amal, bukan menumpuk harta atau mengandalkan keselamatan kepada keluarga. Sebab, harta yang kita tumpuk tidak ikut kita bawa mati. Dan keluarga yang kita andalkan, tidak mau menemani. Semua itu akan pergi meninggalkan kita. Justru di saat kita benar-benar sendiri dan sepi dalam kegelapan kubur.

Hanya amal yang setia menemani. Jika amal kita baik, maka di alam kubur, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan Baihaqi, akan menjelma menjadi wajah orang rupawan yang membawa harapan. Tapi jika amal kita buruk, maka ia menjelma menjadi seorang buruk rupa yang memancarkan aura kesedihan.
Di alam kubur, orang yang beramal baik tidak sabar menunggu datangnya Kiamat, setelah diberitahu kedudukannya di surga. Ia berdoa, “Ya Allah, segerakanlah Hari Kiamat” (HR. Thabrani dan Baihaqi). Berbeda dengan orang yang banyak beramal buruk, ia memelas seraya berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (Al-Munafiqun: 10)
Orang-orang yang beramal buruk itu ketakutan setelah diperlihatkan tempatnya di neraka. Mereka memelas minta dihidupkan lagi. Namun Allah sekali-kali tidak akan mengabulkan. Dahulu ketika masih hidup, mereka mengira bahwa anak dan harta akan mampu menjadi juru selamat. Mereka berkata, sebagaimana disebutkan di dalam surat Saba’, "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu), dan kami sekali-kali tidak akan diazab (Saba’: 35).

Mereka menyangka bahwa Pengadilan Tuhan dapat disogok dengan uang milyaran, atau dapat dilobi oleh keluarga mereka yang ningrat dan terhormat. Tapi Allah SWT membantah semua itu dengan berfirman, Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi dalam surga (Saba’: 37). Rasulullah SAW juga bersabda, “... Barangsiapa cacat amalnya, maka keluarganya tidak dapat menyempurnakannya.” (HR. Muslim)
Hanya amal yang dapat menjadi tumpuan harapan di akhirat. Untuk itu, harta yang kita miliki, dan keluarga yang kita cintai, harus kita proyeksikan untuk menggapai pahala amal saleh, bukan untuk ditumpuk dan dibangga-banggakan. Nabi Ibrahim berdoa, “Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara’: 87-89). Wallahu a’lam

Sunday, 21 June 2015

Belajar Memegang Prinsip kepada Pak AR

Suatu ketika, di bulan Ramadan seperti ini Pak AR, sapaan akrab KH A.R. Fachruddin, Ketua PP Muhammadiyah 1968—1990 diundang berceramah Ramadhan di sebuah Masjid besar di Surabaya yang mayoritas berafiliasi pada jamaah Nahdlatul Ulama. 
Setelah kuliah Tarawih disampaikan sebakda Isya, ternyata beliau juga didaulat menjadi Imam. Pak AR berupaya menolak, tapi beliau terus didesak.
Maka beliau bertanya kepada hadirin, "Bapak ibu sekalian, biasanya shalat tarawih di sini dilaksanakan11 atau 23 rakaat njih?"

"Dua puluhhhhh tiga," teriak hadirin kompak.


"Baik," ujar Pak AR, "Semoga saya juga mampu melaksanakan sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan."


Pak AR pun mulai mengimami shalat Tarawih.
Dengan 23 Rakaat, di Masjid ini rangkaian shalat Tarawih dan Witir biasanya selesai sekitar pukul 20.00. Tapi saat beliau menjadi imam, pada pukul 20.30, shalat baru memasuki rakaat kedelapan.

Maka Pak AR menghadap hadirin dan bertanya, "Bapak ibu sekalian, mengingat waktu, kita selesaikan sampai 20 rakaat, ataukah habis ini kita langsung witir saja?"

Hadirin pun serempak menjawab, "WITIIIRRRR!" 


(sumber: sangpencerah.com)

Saturday, 20 June 2015

Rimla Akhtar: Muslimah Inggris yang Menginspirasi

Seorang atlet Wanita Muslim asal Inggris mendapat penghargaan dari Ratu Elizabeth II karena pengabdiannya kepada masyarakat Inggris pada tahun 2015.
“Jujur saya terkejut ketika saya mengetahuinya, saya tidak membayangkannya sama sekali,” ujar Rimla Akhtar yang merupakan Ketua Yayasan Muslim Wanita Sport seperti dilansir Onislam.net, Ahad (14/6).

Ia mengaku sangat senang dengan adanya penghargaan tersebut. Menurutnya, pemberian penghargaan menandakan apa yang ia lakukan mendapat perhatian dari pihak kerajaan.
Akhtar menerima MBE (Member Orde Most Excellent) dari Kerajaan Inggris. Akhtar dinilai mampu mengusung kesetaraan dan keragaman melalui organisasinya.
Yayasan Olahraga wanita muslim yang dipimpin Akhtar bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan kesempatan olahraga bagi perempuan, terutama yang berasal dari komunitas etnis minoritas.
Selain memimpin yayasan olahraga, Akhtar juga ikut mendirikan “Layanan Listening”. Yayasan ini merupakan organisasi yang menyediakan kesadaran kesehatan mental dan dukungan bagi semua wanita. Khusunya untuk kaum minoritas. (IS)

Friday, 19 June 2015

Hikmah Jumat


إن خسِرت شيئًا لم تتوقع يومًا أن تخسره ، فإن الله سيرزقك شيئًا لم تتوقع يومًا أن تملكه .

Bila engkau kehilangan sesuatu yang sebelumnya tak pernah terbayangkan, maka yakinlah bahwa Allah akan memberimu rezeki yang sebelumnya tak pernah ada dalam bayangan!

تفاءل عندما تصعب عليك الأمور ، فإن الله تعالى أقسم مرتين فإنّ مع العُسر يُسرا ، إنّ مع العسر يسرا .

Optimislah ketika menghadapi kesulitan, sebab Allah telah bersumpah dua kali: sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.

الحياة سألت الموت :لمآذا البشر يحبونني ويكرهونك ؟ أجاب الموت : ﻷنك كذبة جميلة وأنا حقيقة مؤلمة

Kehidupan bertanya pada kematian, “mengapa manusia mencintaiku dan membencimu?” Kematian menjawab, “Karena kamu fatamorgana yang menyenangkan, sedangkan aku hakikat yang memilukan.”

لا نعلم بعد رحمة الله ما الذي سيدخلنا الجنة ؟؟ أهي ركعة ، أو صدقة ، أو سقيا ماء ، أو حاجة مؤمن قضيناها ، أو دعوة ، أو ذكر !!!!فاعمل ولا تستصغر !!!!!!

Setelah rahmat Allah, kita tak tahu amalan apa yang memasukkan kita ke dalam surga. Apakah rakaat shalat kita, ataukah sedekah kita, ataukah doa kita, zikir kita, atau keringanan tangan kita dalam memenuhi kebutuhan saudara. Maka lakukan amal kebaikan apa saja dan jangan meremehkannya!

عندما تظن بأن بعد الشقاء سعاده ، وبعد دموعك إبتسامةفقد أديت عبادة عظيمه ألا وهي حسن الظن بالله

Saat engkau yakin ada bahagia setelah sedih mendera, dan ada senyuman setelah tangisan, maka sesungguhnya engkau telah menunaikan satu ibadah yang besar, yaitu berbaik sangka kepada Allah

إذا أتعبك ألم الدنيا فلا تحزن .. فربما أشتاق الله لسماع صوتك وأنت تدعوه ..

Jangan sedih saat derita dunia menimpamu. Sebab bisa jadi Allah menimpakan hal itu karena rindu mendengar suara tulusnya doamu…
  
لا تنتظر السعادة حتى تبتسم .. ولكن ابتسم حتى تكون سعيد ..

Jangan menunggu bahagia untuk tersenyum. Tapi tersenyumlah agar bahagia

ولماذا القلق من المجهول وكل شيء عند الله معلوم .. لذلك إطمئن فأنت في عين الله الحفيظ .. وقل بقلبك قبل لسانك « فوضت أمري إلى الله »


Mengapa menggelisahkan masa depan, sedang segala sesuatu sudah berada dalam pengetahuan Allah? Tenanglah, karena engkau dalam pengawasan Allah Yang Maha Melindungi. Ucapkanlah dengan sepenuh hati, “Kuserahkan semua urusanku hanya kepada Allah.”